Sejarah Pulau Tabuhan Desa Bangsring

SEJARAH PULAU TABUHAN

Jejak Penamaan Pulau Kecil di Utara Desa Bangsring

Pulau Tabuhan merupakan salah satu pulau kecil yang berada di wilayah utara Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi. Selain dikenal sebagai destinasi wisata bahari yang memiliki pasir putih, panorama Selat Bali yang indah, dan hembusan angin yang menjadi surga bagi olahraga air, Pulau Tabuhan juga menyimpan kisah penamaan yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat nelayan Desa Bangsring.

Pada masa dahulu, jauh sebelum Pulau Tabuhan dikenal sebagai objek wisata, pulau kecil tersebut merupakan salah satu tempat persinggahan para nelayan Desa Bangsring ketika melaut mencari ikan. Hampir setiap hari para nelayan berlayar menggunakan perahu tradisional menuju perairan di sekitar pulau karena kawasan tersebut terkenal memiliki hasil laut yang melimpah.

Dalam setiap perjalanan mereka, para nelayan sering mendengar suara dengungan yang cukup keras berasal dari salah satu bagian pulau. Suara tersebut terdengar jelas meskipun mereka masih berada di atas perahu. Rasa penasaran akhirnya mendorong beberapa nelayan untuk mendekati sumber suara tersebut.

Setelah menyusuri pulau, mereka menemukan bahwa suara yang terdengar berasal dari sekumpulan besar tabuan, yaitu lebah hutan yang hidup dan bersarang di pepohonan yang tumbuh di pulau tersebut. Jumlah tabuan yang sangat banyak membuat suara dengungannya terdengar hingga ke laut, sehingga menjadi ciri khas yang selalu dikenang oleh para nelayan setiap kali mereka melintas atau singgah.

Tidak hanya itu, ketika para nelayan mulai melihat bentuk pulau dari tempat yang lebih tinggi maupun dari kejauhan di tengah laut, mereka memperhatikan bahwa bentuk pulau tersebut tampak menyerupai sebuah sarang tabuan (lebah) yang berukuran kecil. Bentuk pulau yang membulat dengan vegetasi yang lebat semakin menguatkan kesan tersebut.

Karena dua hal itulah, yaitu:

  • adanya suara dengungan sekumpulan tabuan (lebah) yang selalu terdengar di sekitar pulau; dan
  • bentuk pulau yang menyerupai sarang tabuan,

maka masyarakat nelayan Desa Bangsring secara turun-temurun mulai menyebut pulau kecil itu sebagai Pulau Tabuhan.

Nama tersebut kemudian semakin dikenal oleh masyarakat pesisir, para pelaut, hingga penduduk dari daerah lain. Seiring berjalannya waktu, penyebutan "Pulau Tabuhan" menjadi nama resmi yang digunakan hingga sekarang dan diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari sejarah lisan masyarakat Desa Bangsring.

Kini Pulau Tabuhan tidak hanya menjadi simbol kekayaan alam Desa Bangsring, tetapi juga menjadi saksi perjalanan sejarah masyarakat pesisir yang hidup berdampingan dengan laut. Kisah penamaannya menggambarkan kedekatan para nelayan dengan lingkungan sekitar, di mana setiap nama tempat lahir dari pengalaman, pengamatan, dan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

Hingga saat ini, masyarakat Desa Bangsring tetap menjaga cerita tersebut sebagai bagian dari identitas budaya dan sejarah desa. Pulau Tabuhan menjadi bukti bahwa sebuah nama tidak sekadar penanda lokasi, melainkan juga menyimpan nilai sejarah, tradisi, serta hubungan harmonis antara manusia dan alam yang patut dilestarikan.

Makna Filosofis Nama "Pulau Tabuhan"

Nama Pulau Tabuhan mengandung filosofi yang mendalam bagi masyarakat Desa Bangsring.

Tabuan (lebah) dikenal sebagai hewan yang:

  • hidup secara berkelompok dan saling bekerja sama;
  • rajin, tekun, dan disiplin;
  • menjaga sarang dengan penuh tanggung jawab;
  • menghasilkan madu yang bermanfaat bagi kehidupan.

Nilai-nilai tersebut menjadi simbol semangat masyarakat Desa Bangsring yang menjunjung tinggi gotong royong, kerja keras, kebersamaan, serta kepedulian dalam menjaga kekayaan alam dan kelestarian laut. Oleh karena itu, Pulau Tabuhan tidak hanya menjadi ikon wisata bahari, tetapi juga menjadi simbol persatuan, ketekunan, dan keharmonisan antara manusia dengan alam yang terus diwariskan kepada generasi penerus

Bagikan Artikel :